Bermain Cahaya

“BENDA SENI PUN EMBUTUHKAN SENTUHAN YANG PRESISI AGAR LEBIH BISA DIAPRESIASI”

Teks: Paul Gunawan

KARYA SENI, terlepas dari nilai atau harganya, merupakan elemen yang dapat memperindah ruangan dan “memperkaya” jiwa penghuninya. Kekayaan ini adalah investasi besar yang sebenarnya bisa lebih dimaksimalkan dengan tata cahaya yang tepat. Secara umum karya seni dapat dikategorikan sebagai objek 2 dan 3 dimensi. dari segi pencahayaan, kedua tipe tersebut memiliki kriteria kebutuhan yang sama namun berbeda penekanannya, terutama benda 3 dimensi. Dengan wujud 3 dimensi, ada beberapa pertimbangan tambahan demi keberhasilan visualisasi yang akurat dan tidak terdistorsi. Persyaratan pentingnya adalah bahwa penempatan lampu tidak mengakibatkan silau pada pengamat ataupun mengakibatkan bayangan dari pengamat pada objek tersebut. Mata sebagai indra penangkap keindahan visual menghasilkan persepsi dan informasi sebuah objek melalui cahaya yang dipantulkan. Dalam mengamati suatu karya seni maka kulitas pencahayaan menjadi penentu apakah objek tersebut dapat diapresiasi dengan baik atau sebaliknya memberikan informasi yang salah dan mengurangi nilai keindahannya. Idealnya, sang seniman dapat membantu mengatur pencahayaan karyanya. Perlu selalu diingat bahwa cahaya selain memperindah juga memiliki sifat merusak akibat adanya komponen infra merah (panas) dan gelombang ultra violet. Karenanya gunanakan jenis lampu yang tepat, gunakan fllter dan batasi intensitas yang mengenainya. Sebuah karya seni merupakan investasi yang ingin dinikmati keutuhannya selama mungkin. jadi berinvestasi pada perangkat lampu yang benar sudah sepadan agar dapat menikmatinya secara maksimal. Pada akhirnya, apalah gunanya memiliki sebuah keindahan kalau tidak terlihat.

Karya seni merupakan elemen yang berpengaruh besar pada penampilan dan mood

 

Konsentrasi cahaya secara tidak merata dan sudut penyinaran yang tidak tepat dapat mengganggu apresiasi atas sebuah karya seni

 

Objek 2 Dimensi

 

MEMILIH LAMPU. Lukisan membutuhkan pencahayaan yang memiliki kualitas pewarnaan yang semprna. Diperlukan jenis sumber cahaya yang mampu menghasilkan kembali kelengkapan dan kekuatan warna yang seimbang. Berbagai jenis lampu terutama dari tipe hemat energi seperti flourescent (lampu TL-tubular lamp) dan LED (light emitting diode) memiliki penguatan pada warna tertentu. Hal ini mengakibatkan. Hal ini mengakibatkan komposisi lukisan tersebut berubah dari tadi yang seharusnya ingin ditampilkan oleh sang pelukis. Tentunya nilai keindahannya pun akan tereduksi. Hingga saat ini lampu dari jenis halogen masih belum tertandingi dari segi pewarnaan (renderasi warna > 95%) meskipun memiliki kelemahan karena menghasilkan panas dan boros energi.

MERATAKAN CAHAYA. Selain kekayaan warna, lukisan dan objek 2 dimensi lainnya sebaiknya mendapatkan sapuan pencahayaan yang merata. jangan menggunakan lampu yang terlalu menyorot dan mengakibatkan konsentrasi cahaya dititik tertentu saja. Gunakanlah lampu dengan sudut yang cukup lebar atau dari jarak yang cukup. Ingatlah bahwa sang pelukis telah mengekspresikan permainan cahaya di dalam lukisan itu sendiri, sehingga pemusatan cahaya akan merubah persepsi atas karya tersebut.

ARAHKAN CAHAYA SECARA DIAGONAL. Arah datang cahaya cukup penting dalam pencahayaan objek 2 dimensi karena terutama pada lukisan minyak (glossy), dapat memantulkan sinar dari lampu kembali ke mata pengamat dan mengganggu pandangan ke arah lukisan. Bila mungkin, hindari penggunaan kaca pelindung lukisan dan lampu agar ditempatkan dari dua sisi dan diarahkan secara diagonal. Batasi cahaya agar tidak jauh melebihi ukuran objek dan tumpah secara berlebihan ke dinding.

 

Objek 3 Dimensi

 

MENGATUR KOMPOSISI GELAP TERANG. Salah satu kunci keberhasilan pencahayaan objek 3 dimensi seperti patung adalah modelling atau komposisi cahaya (gelap/terang) pada permukaan objek. Keberhasilan pencahayaan dihasilkan dengan adanya bidang terang dan juga terciptanya sedikit bayangan sehingga pengamat dapat mengganti bentuk, tekstur dan lipatan yang terdapat pada objek tersebut.

MENGGUNAKAN SINAR YANG HALUS. Karya 3 dimensi seperti patung maupun relief umumnya diciptakan oleh sang seniman di saat siang hari dengan menggunakan cahaya matahari. Sifat cahaya matahari yang diffuse (halus) dan tidak mengarah-lah yang diharapkan diciptakan kembali melalui pencahayaan lampu di dalam rumah. SEBAIKNYA MINIMAL

DUA LAMPU. Dalam keterbatasan sebuah rumah tinggal, seringkali karya 3 dimensi tidak memiliki ruang yang cukup untuk dapat diamati dari semua arah sehingga pencahayaan hanya dilakukan dari satu sisi saja. Ini pun perlu dilakukan dengan menggunakan minimal lampu dari dua arah dengan intensitas yang berbeda sehingga membentuk komposisi dengan bagian yang paling menonjol (key light) dan sisi bayangan yang lebih lemah (fill light). Kecuali untuk karya seni kontemporer tertentu, maka selalu dibutuhkan lebih dari satu sumber cahaya yang mengenaiknya agar dapat memberikan bentuk dan kedalaman (depth).

MENONJOLKAN MATERI BAHAN. Meski banyak objek 3 dimensi membutuhkan cahaya dengan pewarnaan yang baik, namun juga ditemui karya seni yang terbentuk dari satu warna/bahan saja. Tipe sumber cahaya yang digunakan harus dapat menunjukan material dan karakter bahan yang sesungguhnya.

Objek 3 dimensi memerlukan pencahayaan dari berbagai arah agar dapat menampilkan secara utuh dan tetap memberikan informasi kedalaman yang akurat.