Paul Gunawan

Ir. Paul Gunawan Sungging Prabangkoro

 

Kerja Keras, Jujur dan Memberikan Perhatian Kepada Para Klien serta Karyawan

 

Kerja keras, begitulah motto Ir. Paul GUnawan Sungging Prabangkoro dalam menjalani hidup. Motto tersebut, ditambah dengan jujur dan memberikan perhatian kepada para klien serta karyawan juga menjadi kiat yang dilaksanakannya hingga berhasil mencapai kesuksesan yang diraihnya saat ini, dimana dirinya tercatat sebagai pendiri sekaligus menduduki jabatan Presiden Direktur PT. Lintar Intra Catra (LITAC) yang merupakan perusahaan dalam bidang Lighting Design and Acoustic Consultant. Ia memiliki pengalaman bekerja selama lebih dari sepuluh tahun dalam bidang ini dan terlibat penuh dalam semua aspek perencanaan, dari conceptual design, design development, coordination, supervision, dan testing commisioning pada lebih dari 100 proyek baik untuk tingkat nasional maupun internasional.

 

Latar Belakang

 

Ir. Paul Gunawan Sungging Prabangkoro lahir tanggal 13 Juli 1967, sebagai putra bungsu dari dua bersaudara, dua-duanya laki-laki, pasangan Prof. Widagdo dan Drs. Rita Wizemann. Sebelum memutuskan untuk menjadi seorang insinyur Teknik Fisika, ia mengaku sempat mempunyai cita-cita yang berubah-ubah. Tetapi sejak kecil dirinya memang sudah merasa senang dan tertarik kepada sesuatu yang berhubungan dengan masalah teknik. Maka, setelah tamat dari sekolah menengah tingkat atas, ia melanjutkan pendidikan ke Institut Teknologi Bandung (ITB) dan memilih Fakultas Teknik Fisikadengan bidang keahlian Fisika Bangunan.

 

Kala itu ia merasa ‘agak kering’ jika hanya belajar menguasai masalah yang bersifat teknis semata. Latar belakang kedua orang tuanya yang bekerja dibidang arsitektur dan seni, membuatnya melihat bahwa ada celah di jurusan Teknik Fisika yang menggabungkan faktor engineering dan design yang melibatkan unsur selera (taste) dan keputusan-keputusan yang bersifat pribadi. Di jurusan Teknik Fisika bidang Fisika Bangunan tersebut, meliputi Acoustic, Air Conditioning, dan Lighting. Ia merasa bidang bidang tersebut cocok dengan keinginan dan kemampuan dirinya.

 

Selama menjadi mahasiswa, Paul – begitu ia biasa dipanggil – banyak melakukan kerjasama yang berkaitan dengan pekerjaan atau proyek yang sering ada di jurusan Teknik Fisika. Ia juga kadang mencarikan proyek untuk workshop yang dibangun di jurusannya itu. Dari sinilah mulai tertata suatu pengalaman bagi dirinya, dengan belajar mengerjakan proyek-proyek di bawah bimbingan para dosen. Sifatnya memang bukan sebagai perusahaan professional, melainkan lebih banyak perpaduan antara kegiatan latihan para mahasiswa dan pengabdian masyarakat dari para dosen.

 

Usai lulus dari ITB pada tahun 1993, ia baru merasa yakin bahwa pekerjaan yang dilakukannya itu ternyata semakin berkembang dan dibutuhkan dalam pembangunan. Lantas ia mulai menjajaki untuk membuat pekerjaan tersebut sebagai profesi dan mewadahi dalam suatu perusahaan berbentuk PT (Perusahaan Terbatas)

 

Selain memiliki background pendidikan dari ITB, dirinya pernah pula mengikuti berbagai seminar internasional. Yakni seminar:

 

1992 : Ilumindo ‘93, “Towards A Century of Light”

1993 : Institute Technology of Bandung, “New Lighting Technology”

Institute Technology of Bandung, “Building Automation”

1995 : Hanover Messe, “Light Emotions”

Dallas INFOCOMM, Seminars on Audio, Video and Communications

1996 : Singapore – Seminar on Automated Lighting Control System Taipei

1998 : Taipei, “Asian Lighting Manufacture”

2000 : Frankfurt – Germany, “Daylight Design & Technology”

Frankfurt – Germany, “Better Light with Less Energy”

2001 : Milan – Italy, Milan Lighting Fair Seminar

Bangkok – Thailand, Seminar on Lighting Design

2003 : Esplanade – Singapore,”Lighting One Nighters (Theatre Lighting Seminar)”

2004 : Frankfurt – Germany, “Light and Building fair”

2005 : Seminar We-ef Lighting “Modern Classic – A Lighting Design Approach”, Bangkrak – Bangkok.

Lighting Guang Zhou, China

2006 : Frankfurt – Germany, “Light and Building fair”.

2007 : Milan – Italy, “International Fair Euroluce 2007”

2008 : Frankfurt – Germany, “Prolight & Sound Fair”

Frankfurt – Germany, “Light and Building fair”

“Seminar and Workshop on Engineering Acoustic” Institut Teknologi Bandung

2009 : Berlin – Germany, “PLDC 2nd Global Lighting Design Convention”.

2010 : Frankfurt – Germany, “Light and Building fair”

2011 : Lighting Euroshop Fair Dusseldolf – Germany

Madrid – Spain,” PLDC 2nd Global Lighting Design Convention”.

2012 : Frankfurt – Germany, “Light and Building fair”

 

PT. Lintar Intra Catra (LITAC)

 

Sejak mulai dirintis sejak tahun 1989, barulah pada tahun 1995, Paul mendirikan PT.Lintar Intra Catra (LITAC). “LITAC sebenarnya merupakan singkatan dari Lighting and Acoustic Consultant, dengan harapan untuk lebih mudah diingat, namun peraturan tidak mengijinkan penggunaan bahasa inggris sebagai nama perusahaan. Pekerjaan kami spesifik dalam bidang perencanaan tata cahaya atau lighting, dan acoustic. Dari dulu kita memang sudah fokus untuk menekuni pekerjaan tersebut. Saya berpendapat kedua bidang tersebut merupakan jembatan antara perencana arsitektur atau interior dalam mewujudkan karyanya dengan dukungan dari segi engineering,” ungkapnya.

 

Motivasi dalam menekuni profesi yang dijalaninya saat ini adalah karena profesi tersebut ternyata semakin diakui kegunaannya dan berkembang secara pesat, bahkan telah menjadi sebuah kebutuhan dalam lingkungan pembangunan masa kini. Sebelum ia mulai berkiprah, kebanyakan profesi ini dimonopoli oleh konsultan asing. Padahal menurutnya seharusnya bangsa Indonesia dapat melakukannya, karena bidang yang ditangani sebenarnya lebih banyak tergantung pada kemampuan dan kreatifitas seseorang sebagai designer, dan bukan merupakan suatu ilmu yang tidak bisa dipelajari. Di sisi lain, bidang ini sebenarnya sudah terdapat dalam jurusan Teknik Fisika, hanya belum pernah ada yang benar-benar mengembangkannya menjadi sesuatu yang bersifat professional.

 

Dalam mengembangkan perusahaan, Paul menjelaskan bahwa untuk perusahaan konsultan pengembangannya lebih diarahkan kepada pengembangan pribadi-pribadi dari para karyawan. “Usia dari profesi Lighting Design dan Acoustic mash relatif muda, dibandingkan ilmu Arsitektur atau Interior Design maupun bidang-bidang lainnya yang memiliki referensi sangat banyak. Karena itu, selain dari segi keilmuan, pengembangan yang dilakukan perlu dengan pergi ke luar negeri untuk melihat karya-karya yang ada disana dan mengikuti kursus-kursus guna mengikuti perkembangan teknologi dan memperdalam cara untuk mengerjakannya dengan baik dan benar,” papar pria yang menjadi anggota Himpunan Teknik Iluminansi Indonesia (HTII), Indonesian Illumination Society, (Saat ini menjabat sebagai Ketua !) serta sebagai anggota Himpunan Akustik dan Vibrasi Indonesia (HAVI) yang tengah dibentuk.

 

SDM (Sumber Daya Manusia)

 

PT. LITAC saat ini memiliki karyawan berjumlah 15 orang. “Untuk sebuah perusahaan Lighting Designer maupun konsultan Acoustic, jumlah karyawan 15 orang sudah dapat dianggap besar. Sekalipun jumlah karyawan kita tidak mencapai puluhan, tetapi untuk jasa spesialis-spesialis seperti ini sebenarnya sudah relatif banyak, karena di luar negeri biasanya hanya terdiri atas 4 atau 5 orang. bahkan disini perusahaan lain yang seperti kita cenderung hanya memiliki karyawan beberapa orang. Pekerjaan kita memang sangat khusus dan sifatnya personal sehingga tidak mudah untuk dapat mengawasi pekerjaan dari masing-masing karyawan,” terang Paul.

 

Guna menjalin hubungan baik dengan para karyawan, ia memberikan kebebasan kepada mereka untuk menentukan cara dan jadwal bekerja mereka sendiri-sendiri. Ia tidak menggunakan kartu absensi, dan tidak mengharuskan mereka untuk datang atau pulang pada jam tertentu, tetapi lebih mengutamakan agar mereka menyelesaikan tanggungjawabnya masing-masing. “Kalau beban pekerjaan sedang tinggi, karyawan disini sering bekerja sampai larut malam, bahkan tidur di kantor, agar dapat menyelesaikan pekerjaan. Dan tentunya bagi seorang lighting designer, malam hari merupakan waktu yang sangat penting untuk meninjau hasil pekerjaannya. Sebaliknya, jika tugas pekerjaan dapat diselesaikan lebih awal, mereka dapat pulang lebih cepat. Saya berusaha membuat mereka merasa ‘personally involved’ dan bertanggung jawab terhadap proyek-proyek