Paul Gunawan’s Light

Bapak Paul Gunawan merupakan salah satu designer lighting yang telah berkecimpung di bidang ini selama 17 tahun. Proyek yang telah dikerjakan beliau antara lain Central Park, FX, Senayan City, dsb. Banyak hal yang telah dilalui selama meniti karir tersebut, namun dengan tangan terbuka beliau mau berbagi dengan kita semua para calon designer,. So, check it out!!

Mengapa Bapak memilih bidang lighting?

Awalnya saya berangkat dari Fisika Teknik ITB, Waktu itu terdapat pengelompokan atau sub divisi di Fisika Teknik antara lain Fisika Bangunan yang mencakup AC, Lighting dan Akustik. Background keluarga juga berasal dari desain, ibu seorang pematung dan ayah desainer interior. Jadi saya sering melihat peran dari lighting pada apa yang mereka lakukan. Pada intinya, saya ingin mencari celah dari ilmu yang ada di fisika teknik yang memberikan kesempatan untuk menjadi kreatif disbanding.

Bagaimana keadaan industri, khususnya di bidang lighting, pada waktu bapak mulai menyelaminya dan bagaimana perbandingan dengan sekarang?

Pada waktu saya memulai, profesi ini belum ada di indonesia. Saat itu masih lighting engineer, bukan desainer. Saya sendiri memulai kegiatan di bidang ini pada tahun 90an dan lulus tahun 94. Keadaan dulu, konsultan dari orang asing semua kebanyakan American minded. Biasanya untuk proyek, mereka sudah dalam satu paket termasuk konsultan lighting. Di Amerika sendiri, meskipun profesi konsultan lighting masih muda, namun sudah diakui. Waktu memulai karir, tentunya bila ketemu klien masi dipertanyakn apa itu desiner lighting? Apa bedanya dengan Mechanical Electrical yang mengurusi listrik? Masih berat sekali untuk menunjukan bahwa ada semacam peran yang bisa dimainkan dan memberikan nilai tambah ke sebuah proyek baik secara estetik maupun secara fungsional. Namun sekarang sudah jauh berbeda dengan terus berkembangnya kebutuhan dan kemajuan di tengah masyarakat. Mulai muncul spesialisasi seperti lighting, landscape, kitchen specialist, water feature specialist dan sebagainya.

Adakah titik jebuh setelah sekian lama LITAC company berjalan?
Pasti ada titik jenuh tersebut, ada naik turunnya. Namun keberuntungan sebagai desainer lighting adalah banyak bertemu dengan berbagai tipe klien dan rekan kerja. Pada dasarnya, desainer lighting merupakan bagian dari arsitektur maupun desain interior. Namun, karena konsultan lighting lebih spesifik, mereka sempat mengerjakan proyek lebih banyak dibanding desainer interior atau arsitek dari segi jumlah maupun jenis. Dengan demikian punya kesempatan untuk terlibat di berbagai proyek variatif serta berkolaborasi dengan para desainer yang membuat pekerjaan lebih kaya; lebih seru karena pengalaman tiap proyek berbeda. Jadi kalau jenuh, jenuh di proyeknya yang molor atau proyek yang terlalu biasa aja, bukan di profesi.

Menurut Bapak, hal apa yang penting dalam mendesain suatu karya seperti lighting?
Paling penting adalah kita harus mengerti baik background dari proyek, bagaimana kemauan klien, bagaimana desainernya ingin menciptakan karya tersebut. Karena biar bagaimana pun ‘jendralnya’ adalah mereka. Kita membantu memperkaya dalam koridor yang masih sinkron juga dengan kebutuhan teknis lain
maupun budget, saling melengkapi untuk hasil yang paling baik
dari pilihan yang ada.

Apakah ada sosok yang dikagumi yang menginspirasi Paul Gunawan?
Bagi saya semua desainer menginspirasi, tidak ada yang spesifik.

Bagaimana Bapak mendapatkan inspirasi dalam berkarya?
Berbeda dengan desain interior yang harus menciptakan dari awal, lighting banyak menciptakan sesuatu dari si arsitek atau desainer interior buat. Sudah ada ‘mau gini-gitu’, jadi proyeknya yang jadi inspirasi. Inspirasinya tentu dari memproses creative thinking dan referensi.

Menurut Bapak, bagaimana perbedaan industri di lndonesia dengan yang di luar?
Mereka lebih siap dibanding kita. Persiapan schedule dan budgetnya setara dengan proyeknya, sudah ada pembagian
masing-masing secara jelas. Rumusnya jauh lebih matang, sudah ada rumus yang jelas, sedangkan di lndonesia mimpinya sama
tingginya tetapi dananya masih kaget-kagetan, dan ingin segera selesai sehingga hanya short-cut.

Menurut Paul Gunawan, bagaimana seorang desainer dapat go internasional?

Harus ulet, dari segi bahasa lnggrisnya oke, confident, tidak rendah diri, tidak sak tahu, mau belajar, open-minded, dan
knowledge harus seimbang. Dari segi kemampuan berkreatifitas sebenarnya kita tidak ada masalah dibanding dengan
negara-negara lain, tetapi bermasalah dengan kegigihan, kemampuan berbahasa, cara bersikap, dan cara berkomunikasi.

Apakah goal dari seorang Paul Gunawan?
Goal yang muluk-muluk pastinya seperti profesinya dikenal, karyanya diapresiasi dengan pantas, ingin menunjukkan bahwa
lndonesia tidak bodoh; desainer lndonesia punya kreatifitas yang setara dengan desainer dunia.

Apa kesan dan pesan bapak untuk para calon desainer?

Pertama, harus gigih dan ngotot. Kedua, jadilah lebih spesifik,kemudian baru berkarya. Cari sesuatu yang sangat diminati,
pertajam di bidang tersebut, jangan terlalu lebar dalam profesi. Masing-masing profesi itu kompleks, hanya kelihatannya di awal
gampang sebenarnya tidak, lama-kelamaan akan banyak sekali spesialisasi yang sangat dibutuhkan. So, you have to be more
specific!

Terakhir, kata apa yang dapat mewakili seorang Paul Gunawan?

Perfeksionis. Try to be perfect but I know i’m not. I always push my self, tidak pernah benar-benar puas dengan diri sendiri, saya
menganggap saya masih jauh dari yang saya mau, jadi harus bekerja terus. Dan jangan cepat-cepat untuk me-reward diri sendiri. /vog