Social House

Oleh : Endang Sri Wahyuni

Screen Shot 2012-12-18 at 1.56.51 PM

Program

Membaca gaya hidup warga Jakarta, Ismaya Group berusaha menghadirkan sebuah konsep restoran yang dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan warga Jakarta akan sebuah tempat ‘dining’ yang casual namun juga ‘stylish’. Target pasar mereka mulai dari para eksekutif, ibu rumah tangga, sampai keluarga. Dari makan malam sampai sekedar bersosialisasi ditemani segelas wine atau kopi.

Social House merupakan restoran, bar dan wineshop yang menjadi bagian di dalam department store asal Inggris, Harvey Nichols, bertempat di Grand Indonesia, Jakarta. Ismaya Group mengelola konsep ini sebagai sebuah tempat bersosialisasi yang ‘casual’, ramah, nyaman.

Sebuah area seluas 1100m2 akan diterjemahkan menjadi ruang-ruang melalui program yang sesuai dengan keinginan pemilik yaitu area wine shop, open kitchen, sushi bar, bar dan lounge, juga tidak tertinggal beberapa ruang VIP.

Screen Shot 2012-12-18 at 12.52.15 PM

Finishing interior didominasi dengan kayu jati belanda dan engineering wood membuat atmosfer ruang menjadi sangat nyaman. Selain itu material-material dipakai adalah yang ramah lingkungan dimana semua jenis kayu adalah bekas ataupun dari olahan serpihan kayu. Kemudian material-material ini diperkuat dengan penambahan detail seperti plat besi karat, plat galvanis, serta baut, sehingga membantu menghadirkan suasana industrial namun sekaligus hangat dan nyaman.

Barang-barang yang dipajang berasal dari supermarket Harvey Nichols selain menyatukan restoran ini dengan supermarket yang memang berada dalam lantai yang sama, juga menambahkan suasana restoran yang lebih berorientasi ke casual dining.

Solusi

Ketika pertama kali mengunjungi site, arsitek dihadapkan sebuah site dengan layout yang sangat menantang, di satu sisi lokasi dari restoran ini sangatlah strategis, namun di sisi lain juga terdapat kendala karena struktur pertemuan antara dua bangunan, menara BCA dan Mal Grand Indonesia terjadi tepat di daerah ini. Akibatnya terdapat kolom-kolom dengan modul yang tak beraturan. Program ruang yang kompleks, jadwal pengoperasian yang berbeda antara restoran dan lounge, multiple entrances dan kondisi eksisting yang rumit adalah beberapa hal utama yang paling diprioritaskan solusinya.

Layout resto dan bar yang menyediakan 200 tempat duduk ini dibuat dengan pembagian zona yang jelas. Terbagi menjadi 2 zona berdasarkan waktu. Pukul 10 pagi sampai 10 malam seluruh area dapat dipakai sedangkan pukul 10 malam sampai 2 pagi area restauran menjadi tidak aktif, hanya bar dan wineshop yang tetap beroperasi . Pemisahan ruang pada waktu yang berbeda dapat dilakukan dengan mengoperasikan partisi pemisah pada foyer dan dua buah rak yang dapat diputar sehingga langsung dapat mendefinisikan ruang- ruang tersebut. Sementara antara wineshop dengan department store juga di pisahkan dengan sebuah sistem pintu geser.

Lounge yang buka sampai lewat tengah malam diposisikan di sepanjang dinding kaca yang menghadap Hotel Indonesia dan juga bundaran HI, sementara bagian restoran diletakkan lebih ke arah dalam bangunan karena pertimbangan pengoperasian dan juga orientasi pengunjung yang cenderung lebih fokus pada interaksi saat makan.

Kondisi kolom yang tidak terlalu beraturan dan banyak memang menjadi kesulitan tersendiri, namun kendala ini justru disiasati menjadi suatu elemen desain. Sebagai contoh di daerah bar/lounge, sebuah meja panjang komunal diletakkan diantara dua kolom sehingga secara tidak langsung mengaktifkan daerah yang sebelumnya tidak bisa digunakan. Demikian pula dengan deretan kolom yang terdapat di area makan, dua kolom dengan diameter masing- masing tidak kurang dari 80cm tentunya sangatlah mengganggu, namun penyiasatan dengan menggabungkan kedua kolom ini menjadi sebuah rak menjadikan area ini pun kembali fungsional.

Screen Shot 2012-12-18 at 1.59.05 PM

Fasade

Fasade restaurant dari Harvey Nichols yang berbentuk oval terkesan sangat mengundang. Selain karena bentuknya, pandangan ke dalam yang tidak terhalang membuat interior restoran ini menjadi fasadenya itu sendiri. Fasade oval ini mewakili empat area, yaitu wine shop, foyer, restoran, dan dapur VIP. Tampak area wine shop hanya dibatasi rak kayu rendah. Sebagian area foyer dan dapur VIP merupakan dinding masif dilapisi engineering wood. Diantara dua dinding masif tersebut, terdapat meja dengan plat galvanized ditopang oleh besi WF dengan jendela kayu. Serta kotak wine disusun diagonal untuk membatasi area bawah plat galvanized.

Akses masuk dari Harvey Nichols dinonaktifkan pada pukul 10 malam. Belasan pintu lipat yang terbuat dari kayu jati belanda dengan dimensi 90 x 305 cm membatasi akses masuk dari Harvey Nichols. Koridor afterhour dari arah mall difungsikan dengan sambutan lampu laboratorium dengan bohlam vintage, dinding abu-abu bertekstur, dan langit-langit yang ditutupi material baja expanded. Sampai pada area wineshop pengunjung mulai disambut dengan ruang yang mempertemukan rak kayu jati belanda yang hangat, lantai beton cor dan penataan lampu yang natural, menghasilkan ruang yang sangat nyaman dan hangat.

Akses lainnya melalui sebuah lift langsung dari lobby Harvey Nichols di lantai UG. Lift ini tampil dalam bungkus kontainer berwarna oranye, terletak tepat di antara restoran dan lounge. Sebelum jam 10 malam lift akan membuka ke restoran, namun setelah jam 10 pada saat restoran tutup pintu lift langsung diarahkan ke area lounge.

Bertempat dalam area sebuah mall, ducting yang kompleks cenderung sering menjadi masalah. Untuk mensiasati ruang yang tidak terlalu tinggi, tidak semua area diberi plafon massif, hanya pada bagian resto dan open kitchen serta sebagian area lounge. Sementara area lainnya menggunakan kuda-kuda kayu dengan detail plat besi karat sehingga ducting dan balok terekspos.

Plafon ekspos dengan kuda-kuda kayu buatan dan plat metal agar terkesan lebih ringan dan luas. Sedangkan pipa-pipa dan balok dikamuflase dengan cat abu-abu tua. Sebagian area ditutup dengan plafon kayu rendah untuk menciptakan ruang yang dengan skala yang lebih intim.

Project : Social House at Harvey Nichols, Jakarta

Arsitek : Willis Kusuma Architects – Willis Kusuma, principal; Hendra Irwanto Fong, Endang Sri Wahyuni, Henny Christina, tim desain.

Klien : Ismaya Groups

Konsultan Lighting: Litac – Paul Gunawan

Kontraktor: Median Cipta Graha – Soetjipto Handoko

Luas:  1100m2

Periode Desain: Januari-April 2008

Periode Konstruksi: April – Oktober 2008

Screen Shot 2012-12-18 at 2.03.13 PM

<div>

Pada area restoran terlihat rak yang terbuat dari kayu jati belanda sepanjang dinding sehingga menjadi backdrop open kitchen dan VIP room 1. Panjang keseluruhan rak ini sekitar 33 m. Kesan industrialis dapat terlihat dengan kayu tanpa finishing dan modul lemari yang berulang ditambah dengan detail tangga besi hitam.

Juga di daerah restoran terdapat 4 buah skylight artificial dengan intensitas cahaya yang alami berfungsi baik membawa suasana outdoor ke dalam interior. Skylight ini sendiri dibungkus dengan silinder yang dibentuk dengan susunan kayu jati belanda.

</div>

<div>

Area open kitchen memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk merasakan pengalaman makan yang baru dengan meja bar untuk 6 kursi dengan permukaan plat galvanized dan pemandangan tim chef Aldo Volpi, excecutive chef Social House, bekerja.

Area yang paling mengejutkan dari proyek ini adalah area lounge yang terletak pada pojok restoran. Dari area lounge yang terdiri dari 6 sofa dan sebuah meja lounge kayu setinggi meja bar dengan 20 seat ini, pengunjung dapat mendapat view ke bundaran HI. Kaca diatas railing kayu yang membatasi ruang luar dan dalam ini dapat digeser dan dibuka ketika menjelang malam, sehingga lounge ini seketika menjadi sebuah ruang luar yang menyajikan sebuah perspektif baru untuk menikmati Bundaran HI.

</div>

Screen Shot 2012-12-18 at 2.03.49 PM
Screen shot 2013-01-16 at 8.48.41 AM

Project : Social House at Harvey Nichols, Jakarta

Arsitek : Willis Kusuma Architects – Willis Kusuma, principal; Hendra Irwanto Fong, Endang Sri Wahyuni, Henny Christina, tim desain.

Klien : Ismaya Groups

Konsultan Lighting: Litac – Paul Gunawan

Kontraktor: Median Cipta Graha – Soetjipto Handoko
Luas:  1100m2

Periode Desain: Januari-April 2008
Periode Konstruksi: April – Oktober 2008